Senin, 16 November 2015

Blessings in disguise

            Hello again people. Sudah lumayan lama sejak tulisan terakhir. Baru ketemu waktu yang pas buat nulis lagi. Di tulisan sebelumnya aku ceritakan bagaimana pergumulan terjadi di semester 4 perkuliahanku setelah IP semester 3 diumumkan, bagaimana rasa cemas menemani sepanjang semester 4 menunggu kejelasan nasib di akhir. Well, penantian sudah berakhir dan hasil sudah kuterima. Can you people guess?
         I was dropped out. Ya, perkuliahan ku selama dua tahun terakhir kandas di semester 4. Lucunya, walaupun ku yakin frekuensi belajar aku tingkatkan (walau tidak terlalu meningkat) di semester 4 lalu, hasil yang aku dapatkan malah menurun. Sepertinya bukan hanya semangat belajar ku yang meningkat, tingkat kesulitan mata kuliah juga meningkat, hahaha.
      Yang terburuk dari rangkaian kesulitan yang ku hadapi di semester 4 adalah akhirnya, pengumuman kelulusan. Waktu itu aku sedang di rumah, sudah pulang sekitar 3 minggu sejak libur semester. Kurang jelas apa yang aku kerjakan saat itu, yang pasti aku sedang menggunakan handphone. Tiba-tiba notifikasi kecil muncul di home screen, ketua kelas baru saja memberikan internet link unduhan file pengumuman kelulusan semester 4 melalui aplikasi chatting. And there it was, sungguh pemandangan yang memuakkan di depan mata ku. I was unprepared, perasaan campur aduk. Sebelum aku sempat meratapi diri ku sendiri, aku sudah merasa sedih membayangkan perasaan kedua orang tua ku, dan semua orang yang sedang ada di rumah.
            Ku kumpulkan keberanian, kurang dari 5 menit setelah pengumuman aku terima, aku jumpai Bapak (Kebetulan Mamak sedang di luar kota). Bahkan aku tidak sanggup mengatakan apa yang terjadi, ku keluarkan handphone ku dan ku biarkan dia melihat sendiri. Tiba-tiba air mata keluar dan tanpa ku antisipasi, aku menangis, setelah sekian lama aku tidak pernah menangisi apapun. Segera, seisi rumah tahu apa yang terjadi dan mencoba memberi penghiburan.
            Benar-benar kacau masa masa itu, walau bukan hanya aku yang di drop out, bukan hanya aku yang kecewa, aku merasa sendirian melewati semua ini. Hari pertama aku kembali ke Bintaro untuk mengemasi barang yang masih di ada di kost, aku tidak bisa tidur. Semua kenangan yang sudah aku lalui selama berkuliah di sana tiba-tiba bermunculan kembali di dalam kepala ku. Mulai dari pertama kalinya aku menaiki pesawat terbang, pertama kalinya menginjakkan kaki di kampus, orientasi pengenalan kampus, capacity building, teman-teman baru, suka duka, semuanya terlewati begitu saja. 
            Setelah aku renungkan kembali, aku sadar kalau semua yang terjadi semata-mata karena diri ku sendiri. Sejak awal aku tidak punya ketertarikan dengan apa yang aku pelajari di kampus ku, yang aku gunakan hanya sebagai pelarian dari ketidaksukaan ku dengan sistem yang kurasakan di kampus sebelumnya. Beginilah nasib orang yang terlalu idealis, dibekali dengan sedikit kecerdasan, namun tidak dituntun oleh kebijakan. Sudah 3 universitas/ institusi pendidikan ternama yang menerima ku melalui seleksi masing-masing, namun tidak di satupun dari ketiganya aku menyelesaikan pendidikan ku. What a mess.
            Saat tulisan ini aku buat, sudah dua bulan berlalu sejak pengumuman tersebut. Aku sedang menenangkan diri di rumah seorang saudara, teman-teman ku yang masih beruntung sedang menjalani perkuliahan di semester 5. Lots of random thoughts came up in my mind for the last two months. Gegap gempita kebahagian aku rasakan di setiap kemenangan yang aku raih, namun aku ditinggalkan ketika terjatuh. Mau bagaimana lagi, setiap manusia normal umumnya selalu mencari keuntungan dan menghindari kerugian. Kebahagian seseorang berpotensi mendatangkan keuntungan bagi orang lain, sedangkan musibah yang dialami seseorang mendatangkan kesusahan juga bagi orang lain.

            Dunia seseorang adalah apa yang dipikirkannya. Aku melihat bencana yang baru aku alami sebagai blessings in disguise, mungkin ini sudah bagian dari skema-Nya. Mungkin ini cara-Nya dalam memberi ku kesempatan mengejar mimpiku dengan sedikit pelajaran keras sebagai bekal ku kedepannya. Entahlah, time will answer I think.