Hello again people. Sudah
lumayan lama sejak tulisan terakhir. Baru ketemu waktu yang pas buat nulis
lagi. Di tulisan sebelumnya aku ceritakan bagaimana pergumulan terjadi di
semester 4 perkuliahanku setelah IP semester 3 diumumkan, bagaimana rasa cemas menemani
sepanjang semester 4 menunggu kejelasan nasib di akhir. Well, penantian sudah berakhir dan hasil sudah kuterima. Can you people guess?
I was dropped out. Ya,
perkuliahan ku selama dua tahun terakhir kandas di semester 4. Lucunya,
walaupun ku yakin frekuensi belajar aku tingkatkan (walau tidak terlalu
meningkat) di semester 4 lalu, hasil yang aku dapatkan malah menurun. Sepertinya
bukan hanya semangat belajar ku yang meningkat, tingkat kesulitan mata kuliah
juga meningkat, hahaha.
Yang terburuk dari rangkaian kesulitan yang ku hadapi di
semester 4 adalah akhirnya, pengumuman kelulusan. Waktu itu aku sedang di
rumah, sudah pulang sekitar 3 minggu sejak libur semester. Kurang jelas apa
yang aku kerjakan saat itu, yang pasti aku sedang menggunakan handphone. Tiba-tiba notifikasi kecil
muncul di home screen, ketua kelas
baru saja memberikan internet link
unduhan file pengumuman kelulusan
semester 4 melalui aplikasi chatting.
And there it was, sungguh pemandangan
yang memuakkan di depan mata ku. I was unprepared,
perasaan campur aduk. Sebelum aku sempat meratapi diri ku sendiri, aku sudah
merasa sedih membayangkan perasaan kedua orang tua ku, dan semua orang yang
sedang ada di rumah.
Ku kumpulkan keberanian, kurang dari 5 menit setelah
pengumuman aku terima, aku jumpai Bapak (Kebetulan Mamak sedang di luar kota).
Bahkan aku tidak sanggup mengatakan apa yang terjadi, ku keluarkan handphone ku dan ku biarkan dia melihat
sendiri. Tiba-tiba air mata keluar dan tanpa ku antisipasi, aku menangis,
setelah sekian lama aku tidak pernah menangisi apapun. Segera, seisi rumah tahu
apa yang terjadi dan mencoba memberi penghiburan.
Benar-benar kacau masa masa itu, walau bukan hanya aku
yang di drop out, bukan hanya aku
yang kecewa, aku merasa sendirian melewati semua ini. Hari pertama aku kembali
ke Bintaro untuk mengemasi barang yang masih di ada di kost, aku tidak bisa
tidur. Semua kenangan yang sudah aku lalui selama berkuliah di sana tiba-tiba
bermunculan kembali di dalam kepala ku. Mulai dari pertama kalinya aku menaiki
pesawat terbang, pertama kalinya menginjakkan kaki di kampus, orientasi
pengenalan kampus, capacity building, teman-teman
baru, suka duka, semuanya terlewati begitu saja.
Setelah aku renungkan kembali, aku sadar kalau semua yang
terjadi semata-mata karena diri ku sendiri. Sejak awal aku tidak punya
ketertarikan dengan apa yang aku pelajari di kampus ku, yang aku gunakan hanya
sebagai pelarian dari ketidaksukaan ku dengan sistem yang kurasakan di kampus
sebelumnya. Beginilah nasib orang yang terlalu idealis, dibekali dengan sedikit
kecerdasan, namun tidak dituntun oleh kebijakan. Sudah 3 universitas/ institusi
pendidikan ternama yang menerima ku melalui seleksi masing-masing, namun tidak
di satupun dari ketiganya aku menyelesaikan pendidikan ku. What a mess.
Saat tulisan ini aku buat, sudah dua bulan berlalu sejak
pengumuman tersebut. Aku sedang menenangkan diri di rumah seorang saudara,
teman-teman ku yang masih beruntung sedang menjalani perkuliahan di semester 5.
Lots of random thoughts came up in my
mind for the last two months. Gegap gempita kebahagian aku rasakan di setiap
kemenangan yang aku raih, namun aku ditinggalkan ketika terjatuh. Mau bagaimana
lagi, setiap manusia normal umumnya selalu mencari keuntungan dan menghindari
kerugian. Kebahagian seseorang berpotensi mendatangkan keuntungan bagi orang
lain, sedangkan musibah yang dialami seseorang mendatangkan kesusahan juga bagi
orang lain.
Dunia seseorang adalah apa yang dipikirkannya. Aku
melihat bencana yang baru aku alami sebagai blessings
in disguise, mungkin ini sudah bagian dari skema-Nya. Mungkin ini cara-Nya
dalam memberi ku kesempatan mengejar mimpiku dengan sedikit pelajaran keras
sebagai bekal ku kedepannya. Entahlah, time
will answer I think.