Perbincangan
dimulai dari celetuk aneh yang keluar begitu saja, “Orang seni itu, identik
dengan rambut gondrong”. Kalau aku ingat-ingat, sering kali seniman atau pegiat
seni berpenampilan dengan gaya rambut yang gondrong, alias tergerai panjang tak
terurus. Entah itu pelukis di jalanan, pemusik jalanan, atau mahasiswa seni.
Aku pun mengambil kesimpulan sendiri, melalui cocoklogi, bahwa mungkin ada maksud dari dua elemen itu, Seniman
dan Gondrong.
Mungkin banyak orang awam punya
pemikiran yang sama dengan ku, kalau kedua elemen itu punya keterkaitan. Bahkan
mungkin kesimpulan yang aku tarik atas hubungan keduanya juga sama dengan
sebagian besar orang awam tadi. Bisa ditebak? Ya, KEBEBASAN. Kenapa itu? Ayo
kita lihat dari kedua sisi.
Gondrong dan kebebasan, hubungan nya
apa ya? Sederhana saja sih, rambut yang gondrong itu kan panjang dan sering
juga tak terurus (di sisir, di tata, d.s.b.). Kenapa rambut gondrong itu bisa
panjang? Tentu karena dibiarkan tumbuh dan tidak dipotong, kebebasan kan?
Apalagi kalau tidak diatur-atur bentuk atau teksturnya, sangat bebas rambut
gondrong itu, ya. Bagaimana dengan kebebasan dalam seni? Pengertian seni itu
sendiri (di kamus, di buku pelajaran, di mana-mana hampir semuanya sama) adalah
ilmu mengenai proses penyaluran ekspresi melalui dan/atau menjadi suatu karya
seni. Nah, kelihatan kan? Ekspresi itu kalau mau disalurkan jangan
setengah-setengah dong, atau tersendat-sendat oleh keraguan, keadaannya harus
bebas agar produk seni yang dihasilkan pun sesuai dengan ekspresi yang hendak
disalurkan. Jadi, ya, seni itu sarat dengan kebebasan. Keduanya match dan ketahuan lah sebab dari
banyaknya pelaku seni yang memiliki gaya rambut gondrong.
Tapi celetukan ku dibalas, “Kalau
dibilang identik, artinya seniman itu mayoritas punya rambut gondrong dong? Itu
salah, kebanyakan seniman itu rapih, berkelas dan tau gaya. Karena karya seni tertinggi itu ialah ketika ia
dihargai oleh orang-orang yang berkelas, di konsumsi oleh orang-orang yang
mengerti seni. Coba beri contoh seniman terkenal yang rambutnya gondrong tidak
teratur, tidak ada”. Lantas aku menjawab “Bagaimana dengan Bob Marley?” “Bob
Marley itu awalnya tidak ber rambut gimbal, dulunya pendek dan rapi. Kenapa ia
gondrong? Karena pendengar yang dia tuju melalui genre musik nya adalah
orang-orang jalanan dan broken, agar catchy dan terkesan mewakili mereka, dia
ikuti gaya mereka setidaknya melalui rambut gimbalnya. Semuanya kembali kepada
konsumen, kalaupun mereka (seniman) secara selera mode lebih menyukai rambut
gondrong, kalau mereka menghargai karya seni mereka seharusnya mereka juga
menghargai konsumen mereka. Semakin bagus karya nya, biasanya konsumen nya
tidak begitu suka ber rambut gimbal dan kumal, hahaha”.”Lantas konsumen musik Reggae itu bukan orang berkelas?
Bukannya seni itu relative penilaian nya?”.”Well,
penilaian seni memang relatif. Tapi kalau lebih banyak kritikus seni, seniman
atau pegiat seni lainnya yang beranggapan bahwa suatu karya seni tertentu itu
berkualitas, I’d go to check it out.
Lagipula penikmat Reggae bukan lagi
hanya orang-orang broken Jamaika,
dulu memang kebanyakan ia, makanya Bob Marley gaya nya begitu. Tapi karena
usaha dia, orang-orang lain di luar sana jadi ikut merasakan Reggae itu bagaimana. Dan dia sudah terkenal
dengan gaya dia yang seperti itu, makanya kesan bahwa musik Reggae itu musik
orang broken masih dirasakan
orang-orang awam. Jadi kalau karya seni mu menurut mu bernilai, dan memang kamu
suka gaya-gaya dekil dan urakan, kamu harus berjuang untuk mendapat pengakuan,
karena orang-orang awam sudah ragu hanya dengan melihat keadaan mu, seniman
nya. Most of them can’t make it,
makanya jarang kelihatan seniman terkenal dan punya nama yang gayanya begitu.
Tapi karya seni tetap karya seni, terlepas pendapat yang menilai bagaimana.
Kalau seniman nya pikir itu hasil ekspresinya demi alasan keindahan, itu adalah
seni”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar