Rabu, 22 Juli 2015

Seni Gondrong



         Perbincangan dimulai dari celetuk aneh yang keluar begitu saja, “Orang seni itu, identik dengan rambut gondrong”. Kalau aku ingat-ingat, sering kali seniman atau pegiat seni berpenampilan dengan gaya rambut yang gondrong, alias tergerai panjang tak terurus. Entah itu pelukis di jalanan, pemusik jalanan, atau mahasiswa seni. Aku pun mengambil kesimpulan sendiri, melalui cocoklogi, bahwa mungkin ada maksud dari dua elemen itu, Seniman dan Gondrong.
            Mungkin banyak orang awam punya pemikiran yang sama dengan ku, kalau kedua elemen itu punya keterkaitan. Bahkan mungkin kesimpulan yang aku tarik atas hubungan keduanya juga sama dengan sebagian besar orang awam tadi. Bisa ditebak? Ya, KEBEBASAN. Kenapa itu? Ayo kita lihat dari kedua sisi.
            Gondrong dan kebebasan, hubungan nya apa ya? Sederhana saja sih, rambut yang gondrong itu kan panjang dan sering juga tak terurus (di sisir, di tata, d.s.b.). Kenapa rambut gondrong itu bisa panjang? Tentu karena dibiarkan tumbuh dan tidak dipotong, kebebasan kan? Apalagi kalau tidak diatur-atur bentuk atau teksturnya, sangat bebas rambut gondrong itu, ya. Bagaimana dengan kebebasan dalam seni? Pengertian seni itu sendiri (di kamus, di buku pelajaran, di mana-mana hampir semuanya sama) adalah ilmu mengenai proses penyaluran ekspresi melalui dan/atau menjadi suatu karya seni. Nah, kelihatan kan? Ekspresi itu kalau mau disalurkan jangan setengah-setengah dong, atau tersendat-sendat oleh keraguan, keadaannya harus bebas agar produk seni yang dihasilkan pun sesuai dengan ekspresi yang hendak disalurkan. Jadi, ya, seni itu sarat dengan kebebasan. Keduanya match dan ketahuan lah sebab dari banyaknya pelaku seni yang memiliki gaya rambut gondrong.

            Tapi celetukan ku dibalas, “Kalau dibilang identik, artinya seniman itu mayoritas punya rambut gondrong dong? Itu salah, kebanyakan seniman itu rapih, berkelas dan tau gaya. Karena  karya seni tertinggi itu ialah ketika ia dihargai oleh orang-orang yang berkelas, di konsumsi oleh orang-orang yang mengerti seni. Coba beri contoh seniman terkenal yang rambutnya gondrong tidak teratur, tidak ada”. Lantas aku menjawab “Bagaimana dengan Bob Marley?” “Bob Marley itu awalnya tidak ber rambut gimbal, dulunya pendek dan rapi. Kenapa ia gondrong? Karena pendengar yang dia tuju melalui genre musik nya adalah orang-orang jalanan dan broken, agar catchy dan terkesan mewakili mereka, dia ikuti gaya mereka setidaknya melalui rambut gimbalnya. Semuanya kembali kepada konsumen, kalaupun mereka (seniman) secara selera mode lebih menyukai rambut gondrong, kalau mereka menghargai karya seni mereka seharusnya mereka juga menghargai konsumen mereka. Semakin bagus karya nya, biasanya konsumen nya tidak begitu suka ber rambut gimbal dan kumal, hahaha”.”Lantas konsumen musik Reggae itu bukan orang berkelas? Bukannya seni itu relative penilaian nya?”.”Well, penilaian seni memang relatif. Tapi kalau lebih banyak kritikus seni, seniman atau pegiat seni lainnya yang beranggapan bahwa suatu karya seni tertentu itu berkualitas, I’d go to check it out. Lagipula penikmat Reggae bukan lagi hanya orang-orang broken Jamaika, dulu memang kebanyakan ia, makanya Bob Marley gaya nya begitu. Tapi karena usaha dia, orang-orang lain di luar sana jadi ikut merasakan Reggae itu bagaimana. Dan dia sudah terkenal dengan gaya dia yang seperti itu, makanya kesan bahwa musik Reggae itu musik orang broken masih dirasakan orang-orang awam. Jadi kalau karya seni mu menurut mu bernilai, dan memang kamu suka gaya-gaya dekil dan urakan, kamu harus berjuang untuk mendapat pengakuan, karena orang-orang awam sudah ragu hanya dengan melihat keadaan mu, seniman nya. Most of them can’t make it, makanya jarang kelihatan seniman terkenal dan punya nama yang gayanya begitu. Tapi karya seni tetap karya seni, terlepas pendapat yang menilai bagaimana. Kalau seniman nya pikir itu hasil ekspresinya demi alasan keindahan, itu adalah seni”.