Dunia ini bekerja
dengan satu prinsip dasar, kesetimbangan. Setiap nilai selalu memiliki anti
nilai nya sendiri. Benar dengan salah, hidup dengan mati, realita dengan ilusi,
dan masih banyak lagi. Suatu nilai dengan anti nilai nya tidak pernah dapat
terjadi, hadir, secara bersamaan dalam dimensi waktu dan ruang.
Dalam perhitungan
matematis, anti sebuah nilai dapat dipersepsi kan dalam dua bentuk. Melalui
tanda bilangan, atau melalui pemangkatan -1. Misalnya, anti dari 2 jika
menggunakan tanda bilangan, adalah -2. Dengan konversi pemangkatan -1, maka
anti nilainya adalah 1/2,
walaupun nilai pemangkatan -1 sebenarnya disebut berkebalikan, namun sekilas
terlihat seperti anti nilai karena berbeda secara siginifikan dalam bentuk
simbolik terhadap nilai sebelumnya. Dengan tanda bilangan, setiap pertemuan
nilai dan anti nilai melalui penjumlahan, maka akan selalu ditemui ketiadaan.
Penandaan bilangan adalah teknik yang benar secara matematis dalam
mendefinisikan anti nilai. Contohnya dalam dunia nyata dapat kita lihat melalui
penamaan materi dan anti materi dalam ilmu fisika. Anti materi adalah kebalikan
dari materi dalam unsur penyusun nya. Materi disusun oleh atom yang pada inti
nya terdiri dari proton yang bermuatan positif dan elektron yang bermuatan
negatif. Dalam anti materi tanda penyusun inti atom nya berbeda, elektron
bermuatan positif atau positron (e+) dan proton bermuatan negatif atau
antiproton (p-). Pertemuan kedua zat ini akan mengasilkan peniadaan, keduanya
lenyap dan menghasilkan energi dalam prosesnya.
Ada sistem penamaan yang terlihat seperti “anti” yang dapat kita
lihat dalam perhitungan kalkulus. Sebutan matematis untuk perubahan jumlah
fungsi seusai dengan perubahan jumlah input adalah turunan (derivation). Contoh nya pada perhitungan
kecepatan tetap; jarak benda yang berubah seiring dengan perubahan waktu
disebut sebagai turunan jarak terhadap waktu, yang menghasilkan kecepatan. Sementara
itu, untuk menyelidiki proses awal/ kebalikan dari terjadi nya turunan,
diciptakan lah integral, yang nama lain nya adalah anti-turunan (anti-derivation). Hasil kedua fungsi
ini, turunan dan anti turunan, jika dijumlahkan hasil nya tidak 0 atau saling
meniadakan, lalu mengapa integral disebut anti-turunan? Karena kedua
menggunakan proses perhitungan yang berkebalikan.
Contoh lain adalah
fungsi invers, fungsi ini digunakan untuk memetakan proses fungsi matematika
secara terbalik. Lambang perhitungan fungsi ini terhadap variabel x adalah f-1(x).
Misal f(x) = 2x + 3, maka inversnya dihitung dengan membalik kan proses f(x),
yang sebelumnya x dikali 2, ditambah 3 menjadi x dikurang 3, dibagi dua,
sehingga f-1(x) = (x-3)/2. Walaupun hanya “berkebalikan” dapat kita
lihat bahwa proses dalam fungsi invers dan anti turunan berbeda dengan proses
fungsi sebelumnya, boleh saja kita sebut kedua fungsi ini sebagai anti-proses
dari fungsi sebelumnya.
Ada hal-hal unik dalam
anti-proses yang bisa kita lihat. Walau pun selalu membalikkan proses dari
fungsi sebelumnya, terkadang hasil yang didapat sama dengan hasi dari fungsi
sebelumnya. Selain itu, bilangan real yang di balikkan secara proses
perkalian,(seperti 1 x 3 x 4 menjadi 1/1 x 1/2 x 1/3 atau 1/12) jika dikalikan
hasi awal dan hasil pembalikan nya, akan selalu menghasilkan 1. Sepertinya,
hal-hal yang berkebalikan atau berbeda dalam hidup ini dapat dipersatukan
dengan melalui cara-cara tertentu yang sesuai, hahaha.
Warbiasah mahasiswa USU, ITB dan STAN ini
BalasHapus